Garisjabar.com- Mengawali Tahun Baru 2026, harga berbagai kebutuhan pokok di Kabupaten Purwakarta masih terpantau tinggi.
Cuaca ekstrem yang masih berlangsung serta pasokan yang belum sepenuhnya stabil membuat harga sejumlah komoditas belum menunjukkan penurunan signifikan, meski momen libur Natal dan Tahun Baru telah berlalu.
Pantauan Garisjabar.com di Pasar Rebo, Kelurahan Nagri Kidul, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta pada Senin (5/1/2026), aktivitas jual beli berjalan normal.
Sementara itu, di balik ramainya pasar tradisional tersebut, harga sejumlah kebutuhan pokok masih memberatkan masyarakat. Bahkan, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan tajam di pekan pertama 2026.
Salah satunya adalah minyak goreng bersubsidi merek Minyak Kita yang masih dijual dengan harga Rp18.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Selain minyak goreng, harga telur ayam ras juga masih bertahan tinggi, yakni di kisaran Rp32.000 per kilogram, di atas harga normal yang biasanya berada pada angka Rp26.000 hingga Rp27.000 per kilogram.
Selain itu, telur puyuh mengalami kenaikan cukup signifikan, dari sebelumnya Rp40.000, kini melonjak menjadi Rp48.000 per kilogram.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas kacang tanah lokal yang sebelumnya dijual Rp30.000 per kilogram, kini melambung hingga Rp45.000 per kilogram.
Salah seorang pedagang, Aep Saepudin, menyampaikan, tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok dipicu oleh berkurangnya pasokan di pasaran.
Ia pun mengatakan, sejak diberlakukannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), permintaan terhadap sejumlah bahan pangan meningkat, sementara pasokan belum mampu mengimbangi kebutuhan.
“Minyak Kita di pasaran rata-rata sudah lama dijual Rp18.000 per liter. Pasokannya agak susah, jadi harga naik. Telur juga sama, banyak dipakai untuk kebutuhan MBG. Kacang malah naiknya paling terasa, dari Rp30.000 sekarang jadi Rp45.000 per kilo,” ujar Aep kepada wartawan.
Disampaikan pedagang lainnya, Atik Hanwar, menyampaikan kenaikan harga paling tinggi terjadi pada jenis kacang-kacangan, terutama kacang tanah dan kacang hijau.
Ia pun menduga, minimnya pasokan impor turut memicu lonjakan harga kacang lokal di pasaran.
“Kacang naiknya tinggi banget, hampir Rp10.000 per kilo. Katanya barang impor enggak masuk, jadi kacang lokal ikut mahal,” kata Atik.
Meski demikian, pedagang menyebutkan bahwa harga sejumlah komoditas sayuran, termasuk cabai, serta ayam potong, mulai menunjukkan penurunan dan relatif stabil dibandingkan saat puncak libur Nataru.
“Kami, para pedagang berharap, seiring berjalannya waktu dan membaiknya pasokan, harga kebutuhan pokok dapat kembali normal,” ucap Atik. (Rsd)

