Usai Viral Siswa Bullying Gurunya di Purwakarta, Akan Menjalani Pembinaan Intensif Selama Tiga Bulan

oleh -3 Dilihat

Garisjabar.com- Usai viral sekumpulan siswa yang melecehkan gurunya dan acungkan jarinya hingga berjoget di ruang kelas sebuah sekolah SMA 1 Purwakarta, Jawa Barat.

Vidio tersebut menunjukan prilaku kurang pantas dan tidak terpuji kepada gurunya pada saat di ruang kelas. Selain itu, para pelajar tidak hanya mencederai etika, tetapi juga mencoreng dunia pendidikan serta nama baik sekolah.

Perilaku siswa terhadap gurunya tidak hanya berkaitan dengan disiplin sekolah, tetapi juga menyangkut nilai moral dan etika dalam dunia pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto mendatangi langsung SMAN 1 Purwakarta, sekolah yang diduga menjadi lokasi perundungan terhadap guru oleh sejumlah siswa.

Menurut Purwanto, peristiwa yang viral di media sosial itu dipicu dinamika saat pembelajaran berlangsung, namun tindakan para siswa dilakukan secara sengaja.

Purwanto mengatakan, kejadian bermula saat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang diampu oleh guru bernama Syamsiah atau dikenal dengan Bu Atun.

Saat itu, menurutnya, siswa tengah mengerjakan tugas kelompok bertema keberagaman, mulai dari membuat makanan hingga menampilkan seni daerah.

Awalnya, pembagian kelompok telah ditentukan. Namun menjelang presentasi, terjadi perubahan urutan kelompok. Sembilan siswa yang semula mendapat giliran kedua harus bergeser ke sesi terakhir.

“Kelompok ini akhirnya tampil di giliran terakhir. Selama pembelajaran berlangsung, mereka tetap terlihat biasa saja, bahkan sempat berfoto bersama guru,” kata Purwanto usai menjadi pembina upacara di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, setelah guru meninggalkan kelas, para siswa tersebut justru melakukan aksi tidak pantas dengan mengacungkan jari tengah dan perilaku melecehkan lainnya, yang kemudian direkam dan viral di media sosial.

Purwanto menegaskan, tindakan tersebut dilakukan secara sengaja meski diduga berawal dari rasa kesal karena perubahan giliran presentasi.

“Tindakan itu jelas disengaja, meskipun mungkin dipicu kekecewaan. Tapi ini tetap tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Purwanto menyampaikan, Disdik Jawa Barat memastikan para siswa tidak dikeluarkan dari sekolah.

Mereka akan menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan, termasuk kegiatan sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Selain itu, para siswa akan mendapatkan pendampingan psikolog, pengawasan guru wali setiap hari, serta evaluasi rutin bersama orang tua setiap minggu.

“Hak pendidikan mereka tetap dipenuhi, tapi harus dibarengi pembinaan agar perilakunya berubah,” katanya.

Purwanto juga menyoroti peran media sosial dalam membentuk perilaku siswa saat ini. Ia menilai, perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi sekolah, tetapi juga lingkungan, orang tua, dan teknologi.

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Jabar telah menginstruksikan agar siswa tidak memegang ponsel saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

“Kalau tidak diawasi, anak bisa saja bermain media sosial saat guru mengajar, bahkan bisa live. Ini yang harus dicegah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya aturan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, yang seharusnya dibatasi.

Kasus ini disebut menjadi refleksi bersama bagi dunia pendidikan. Purwanto menyebutkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan seluruh elemen masyarakat.

“Sebagus apa pun konsepnya, kalau tidak ada konsistensi dari semua pihak, tidak akan berjalan,” ucapnya.

Ke depan, Disdik Jabar akan memperketat pengawasan serta memastikan seluruh sekolah untuk menerapkan kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah, khususnya terkait penggunaan gawai dan penguatan pendidikan karakter. (Rsd)