Kutu Loncat, Partai Saja Dikhianati Apa Lagi Rakyat

oleh -127 Dilihat

PURWAKARTA, garisjabar.com- Fenomena perpindahan politisi dari satu partai politik ke partai politik lain, namun di era reformasi demokrasi lazim terjadi dan ini biasanya terjadi menjelang pemilihan legislatif. Minggu (28/5/2023).

Istilah “Politikus Kutu Loncat”, dipahami sebagai sebutan bagi para politikus berpindah dari parpol satu ke parpol lainnya. Alasan melakukan kutu loncat pun bermacam-macam mulai dari sudah tidak loyalnya kepada parpol atau hendak mencari dukungan pasti. Sehingga, parpol lain dianggap akan terperdaya untuk menjamin tujuan dan ambisi politiknya.

Lantas, apakah ada yang salah dengan fenomena politisi kutu loncat ?. Bila dilihat dari strategi politik yang pragmatis dan oportunis, dengan perpindahan seorang kader partai ke partai lain adalah hal yang lumrah dan juga diperbolehkan.

Namun apakah wajar dan beretika ? .Ini yang tentu menjadi sebuah sorotan bagi publik tentang kepindahan politisi ke partai lain.

Sementara diakui atau tidak, fenomena itu tentu memberikan beberapa dampak bagi partai yang ditinggalkan antara lain. Pertama, hilangnya seorang kader yang telah dibesarkan dan diberikan berbagai kesempatan untuk menduduki sebuah jabatan.

Kedua, perlu dipertanyakannya pola kaderisasi partai di partai tersebut. Hingga ada seorang kadernya yang “berkhianat”, dan tidak menjiwai idealisme partai sehingga dengan mudah pindah partai.

Selain itu, adapun dampak bagi partai baru dari fenomena tersebut, adalah rusaknya sistem kaderisasi partai, sehingga dengan mudahnya seorang bisa menduduki sebuah posisi tanpa melewati jenjang kaderisasi yang ada.

Dengan timbulnya kecemburuan politik terhadap kader yang telah lama membesarkan partai.

Dan ketiga, adanya kemungkinan berpengaruh buruk bagi partai, jika akhirnya politisi tersebut terjerat persoalan yang fatal.

Fenomena seperti itu, pada akhirnya akan menjadi sebuah pertanyaan besar. Akan seperti apa politik bila politisinya banyak yang miskin loyalitas dan gemar berkhianat ?

Ada empat hal yang mungkin terjadi pada sebuah daerah bila seorang “politisi kutu loncat” menjadi pemimpin. Yakni miskin Ideologi, tidak menghargai proses dan berorientasi pada kepentingan mempertahankan kekuasaan dan mudah berkhianat.

Secara gelagat tidak ada yang lebih penting dalam dunia politik selain dari integritas. Sebuah kata yang menggambarkan keloyalan dan kesetiaan serta kejujuran dan juga keberanian seorang politisi.

Seorang politisi kutu loncat yang begitu mudahnya berkhianat dari sebuah partai, sehingga yang telah membesarkannya adalah sebuah indikasi dirinya tidak memiliki integritas.

Sederhana saja, secara hipotesa “apabila partai politik yang membesarkanya saja dengan mudah ia khianati, apalagi rakyat ?”

Kesimpulannya, bahwa bagi seorang oportunis politik. Bisa jadi ia akan berusaha untuk mencari tempat baru, menyalurkan syahwat polItiknya tanpa malu. Kemudian mencari kepuasan untuk mencapai kekuasaan, lantas dengan mudah untuk kembali mengkhianati amanah rakyat. (Ags)