Garisjabar.com- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Merah Mata Palembang tancap gas demi mewujudkan lingkungan yang bersih dan berintegritas. Melalui komitmen “Zero Halinar”, pihak Lapas bertekad menghapus tiga momok utama yaitu Handphone ilegal, pungutan liar, ungli, dan Narkoba.
Langkah nyata ini diawali dengan upacara Ikrar dan penandatanganan komitmen bersama yang digelar langsung di lingkungan Lapas pada Sabtu, 18 April 2026.
Ketegasan tanpa kompromi
Kepala Lapas Kelas I Merah Mata Palembang, M. Pithra Jaya Saragih, menegaskan bahwa ikrar ini bukan sekadar seremoni di atas kertas. Ia menjamin akan ada tindakan keras bagi siapa pun yang berani melanggar.
”Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat. Ikrar ini bukan formalitas, tapi pedoman wajib. Jika ada yang melanggar, akan kami tindak tegas, baik secara aturan kedinasan maupun hukum pidana,” kata Pithra saat diwawancarai usai kegiatan.
Tak menunggu lama, usai prosesi ikrar, Pithra langsung memimpin tim untuk melakukan razia mendadak di seluruh kamar hunian. Pengecekan ketat dilakukan guna memastikan tidak ada celah bagi barang terlarang untuk masuk ke dalam sel.
Selain itu, dari budidaya hingga menu Rendang di balik ketegasan tersebut, Lapas Merah Mata juga menunjukkan sisi humanis melalui program pembinaan kemandirian.
Para warga binaan dibekali keahlian mulai dari bercocok tanam, budidaya ikan dan ayam, hingga berbagai kerajinan tangan. Namun, satu hal yang mencuri perhatian adalah standar pelayanan dapur.
Pithra menjamin asupan gizi para narapidana terpenuhi dengan kualitas rasa yang berkelas.
”Kami memiliki 15 koki terbaik dengan menu yang beragam, mulai dari olahan ayam hingga rendang. Kualitasnya super lezat dan bergizi,” ujarnya.
Menepis citra negatif
pithra juga menyayangkan jika masih ada stigma negatif terhadap institusi Lapas di mata publik. Ia mencontohkan bagaimana pihak Lapas dengan tulus merawat narapidana lansia yang bahkan sudah tidak dipedulikan lagi oleh keluarganya.
”Tugas kami berat, membina manusia agar menjadi lebih baik. Kadang sedih mendengar citra buruk di luar sana, padahal di sini kami bekerja dengan penuh tanggung jawab demi masa depan mereka,” ucapnya. ( Syaiful)

