Diduga Dicuri Orang Dalam Kabel Stadion Purnawarman Purwakarta, Bisa Jadi Pintu Masuk Mafia Aset Daerah 

oleh -2 Dilihat

Garisjabar.com- Fasilitas negara kabel lampu untuk penerangan di Stadion Purnawarman, Kabupaten Purwakarta, diduga dicuri orang dalam.

Hilangnya kabel lampu untuk penerangan di Stadion Purnawarman Purwakarta pun menjadi perhatian publik.

Sementara, Yai Uun Khaerun Kepala Bidang Olahraga di Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, saat dimintai keterangan melalui seluler terkait hilangnya kabel lampu di Stadion Purnawarman tak menjawab.

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Yasin, dugaan pencurian kabel lampu di Stadion Purnawarman Purwakarta, tidak bisa lagi dipandang sebagai kasus kriminal biasa. Jika benar melibatkan pegawai internal, maka ini adalah skandal serius yang mengindikasikan adanya praktik sistemik.

Agus Yasin, mengatakan aset daerah dijarah atau dicuri dari dalam oleh orang-orang yang justru digaji untuk menjaganya.

“Ini bukan sekadar kehilangan kabel, tapi ini adalah indikasi kebobrokan tata kelola, pengawasan, dan integritas birokrasi di Purwakarta,” kata Agus Yasin. Kamis (16/4/2026).

Agus Yasin menambahkan, lebih dari itu, dugaan ini membuka kemungkinan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Apakah ini kerja individu, atau jaringan?

Menurutnya, pencurian kabel instalasi Stadion bukan pekerjaan sederhana, juga dibutuhkan akses, pengetahuan teknis, dan yang paling krusial adalah rasa aman bahwa perbuatannya tidak akan terdeteksi atau diproses.

Artinya, ada dua kemungkinan besar. Sistem pengawasan lumpuh total, atau ada pembiaran bahkan perlindungan dari dalam?

“Jika ini benar, maka yang terjadi bukan lagi pencurian, tetapi indikasi “mafia aset daerah” yang beroperasi secara senyap,” ujarnya.

Menurut Agus Yasin, fakta yang tidak bisa diabaikan, Stadion adalah aset publik bernilai tinggi dibiayai APBD. Instalasi kabel bukan barang sembarangan yang bisa hilang tanpa jejak, dan dugaan pelaku dari internal menunjukkan kejahatan berbasis akses dan kepercayaan.

“Ini adalah bentuk paling berbahaya, korupsi yang menyamar sebagai pencurian,” ucap Agus.

Kata Agus Yasin, pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas pengamanan aset Stadion Purnawarman? Berapa total kerugian negara akibat kejadian ini? Mengapa pengawasan bisa begitu lemah hingga orang-orang dalam leluasa beraksi? Dan apakah ada kejadian serupa yang selama ini ditutup-tutupi?

Jika pertanyaan ini tidak dijawab secara terbuka, maka patut diduga ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Terkait persoalan itu, Polres Purwakarta harus didesak untuk segera mengusut tuntas hingga ke akar, bukan sekadar mencari “kambing hitam” di lapangan. Bongkar jika ada jaringan, siapa pun yang terlibat.

Tak hanya itu, Agus Yasin, menyampaikan jika kasus ini berhenti pada pelaku kecil tanpa menyentuh aktor di balik layar, maka perlu dicurigai. Ini bukan penegakan hukum, tapi ini pengaburan. Karena dalam banyak kasus yang terlihat mencuri sering kali bukan satu-satunya yang menikmati.

Agus Yasin, menyebutkan kasus ini harus menjadi titik balik, penegakan hukum di Purwakarta sedang diuji. Apakah berani membongkar kebusukan dari dalam, atau memilih melindunginya?

“Karena jika aset daerah bisa dijarah oleh orang dalam tanpa konsekuensi, maka yang hilang bukan hanya kabel Stadion, yang hilang adalah kepercayaan publik,” ungkap Agus. (Rsd)