Garisjabar.com- Pesta Pernikahan di Kampung Cikumpay PTPN, Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, berubah menjadi tragedi, Sabtu (4/4/2026).
Tuan rumah hajat, Dadang, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan brutal oleh sekelompok pria. Peristiwa nahas ini terjadi di tengah berlangsungnya acara pernikahan anak korban.
Sementara, berdasarkan informasi yang dihimpun, kericuhan tersebut bermula saat sekelompok pria datang dan meminta “jatah” sejumlah uang kepada tuan rumah hajat.
Akan tetapi, permintaan tersebut ditolak korban karena diduga untuk membeli minuman keras. Penolakan Dadang justru memicu emosi para pelaku.
Mereka malah membuat keributan yang dengan cepat memicu kepanikan di tengah tamu undangan. Situasi yang semula penuh kebahagiaan berubah mencekam.
Korban pun menjadi sasaran amukan. Ia dianiaya secara brutal menggunakan benda keras hingga tak sadarkan diri di lokasi kejadian.
Namun, jeritan histeris keluarga dan tamu undangan pun pecah, sementara sejumlah warga berusaha memberikan pertolongan seadanya.
Dalam beberapa rekaman video yang beredar, terlihat suasana kacau dengan warga berlarian. Korban tampak tergeletak tak berdaya di tengah kerumunan. Istri korban, Juju, bahkan tak kuasa menahan duka hingga pingsan di lokasi.
Kasihumas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyebut kejadian berawal dari keributan yang berujung pada aksi kekerasan.
“Diduga ada sekelompok orang membuat keributan di acara hajatan yang kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri,” ujar Enjang kepada wartawan saat dikonfirmasi, Minggu (5/3/2026).
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ia menyebutkan, polisi menemukan benda berupa belahan bambu yang diduga digunakan untuk menganiaya korban, terutama pada bagian kepala.
Korban, menurutnya, sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Hingga pukul 20.35 WIB, jenazah korban masih berada di RSUD Bayu Asih Purwakarta.
Selain itu, korban dilakukan penanganan lebih lanjut, termasuk proses visum guna memastikan penyebab pasti kematian. Polisi juga bergerak cepat dengan mengamankan sejumlah terduga pelaku.
Saat ini, kata Enjang, terduga pelaku dan saksi-saksi masih menjalani pemeriksaan intensif oleh Satreskrim Polres Purwakarta untuk mengungkap secara jelas kronologi dan motif kejadian.
“Pelaku sudah diamankan, dan kami masih melakukan pendalaman,” ucap Enjang.
Sementara itu, adik korban, Asep Wahyu, menceritakan detik-detik mencekam yang berujung tewasnya kakaknya itu.
“Awalnya cuma minta uang, sekali dikasih, mereka minta lagi sampai Rp500 ribu,” kata Asep.
Menurutnya, sekelompok pria yang diduga berjumlah sekitar 10 orang datang ke lokasi hajatan dan meminta uang kepada pihak keluarga.
“Pertama dikasih, terus minta lagi. Katanya Rp500 ribu. Kejadiannya terus begitu (pemukulan),” ujar Asep menambahkan.
Ia mengaku tidak mengenal para pelaku karena dirinya tinggal di Karawang, sementara sang kakak menetap di Purwakarta.
Akan tetapi, dari informasi yang ia terima, jumlah pelaku cukup banyak dan sempat membuat situasi tak terkendali.
“Ke kakak saya ada tiga orang, ke saya sekitar delapan orang. Tapi kabarnya, totalnya sekitar 10 orang,” kata Asep. (Rsd)

