Akan Lakukan Penurunan Angka Stunting, Purwakarta Ada di Angka 21,9 Persen

oleh -147 Dilihat
Heri Anwar

PURWAKARTA, garisjabar.com- Penanganan stunting di Indonesia tidak boleh berhenti begitupun di Kabupaten Purwakarta.

Kabupaten Purwakarta terus akan melakukan menurunkan angka stunting. Menurut Norman Nugraha, ada 2 survei yang dilakukan, yang pertama berdasarkan survei status gizi Indonesia Kabupaten Purwakarta itu ada di angka 21,9%.

Menurutnya, berdasarkan bulan penimbangan balita di Kabupaten Purwakarta itu ada 2,9%,”Jadi Itu 2 survei yang memang dilakukan oleh setiap daerah di seluruh Indonesia,”kata Norman Nugraha. Senin (26/6/2023).

Norman Nugraha mengatakan, tetapi pesan yang di sampaikan melalui kegiatan rembuk stunting ini, yang pertama bagaimana bahwa kaitan isu nasional tahun ini bisa turun. Tentunya dengan beberapa intervensi yang dilakukan, baik intervensi spesifik maupun intervensi sensitif.

Kata Norman Nugraha, tidak hanya itu kolaborasi dan sinergi yang kita lakukan terus bersama jajaran TNI Polri itu tentunya bisa membantu kita dalam menurunkan stunting di kabupaten Purwakarta.

“Sebetulnya target di tahun 2023 ini kita targetkan Zero New Stunting, artinya tidak ada kasus baru, jadi kita fokus terhadap penanganan balita yang ter kategorikan stunting sudah ada,”ujar Norman Nugraha.

Untuk program penurunan stunting di Kabupaten Purwakarta. Menurut Norman Nugraha, kalau berbicara konvergensi tentunya terintegrasi, tidak hanya berbicara dinas kesehatan saja dan dinas (DPPKB),”Tapi tentunya perangkat daerah yang terlibat langsung dalam intervensi sensitif dan spesifik itu bekerja secara bersama-sama,”kata Norman Nugraha.

Sementara untuk penguatan pos pelayanan terpadu (posyandu) di masing-masing wilayah perlu diperkuat guna mendukung program penanganan stunting.

Sehingga, akan maksimalkan fungsi dan peran kader pendamping keluarga dibawah (DPPKB) dan kader (posyandu) dibawah Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta.

“Nah itu kader yang tentunya nanti melakukan proses monitoring dan evaluasi di lapangan seperti itu, nanti melaporkan ke masing-masing Puskesmas-Puskesmas tentunya ke dinas kesehatan dan kita menerima laporan dari dinas kesehatan,”ucap Norman Nugraha.

Selain itu, akan mengoptimalkan pelayanan posyandu guna mendukung upaya penanganan stunting. Di setiap posyandu diharapkan telah tersedia alat antropometri, dan di puskesmas diharapkan tersedia alat USG (ultrasonografi)

Dengan adanya alat antropometri dan USG, maka upaya intervensi bisa dilakukan dengan lebih tepat sasaran.

Namun alat antropometri bermanfaat untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran pertumbuhan balita guna deteksi dini kasus stunting.

Sedangkan USG sangat penting untuk memonitor perkembangan janin selama berada di dalam kandungan. (Dni)