PURWAKARTA, garisjabar.com- Selain menimbulakn bahaya akan adanya ular dalam hamparan eceng gondok, ternyata eceng gondok juga kerap kali menyebabkan berbagai macam penyakit kulit, selain itu eceng gondok juga menimbulkan masalah bagi ekositem kehidupan bawah air.
Namun itu, menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan juga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutanĀ oksigen dalam air. Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
Tanaman ini memberikan efek negatif bagi lingkungan.
Selain menurunkan nilai estetika lingkungan perairan, eceng gondok juga meningkatkan habitat vektor penyakit pada manusia.
Hal kecil dampak negatif eceng gondok dialami oleh Koordinator Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) Jatiluhur Atim Prihantono.
Ia mengatakan getah eceng gondok terasa gatal dikulit, seperti dikehatui, ia sendiri sering terjun kerja bakti membersihkan eceng gondok bersama masyarakat di wilayah dermaga Serpis, Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
“Getahnya itu gatal, kalau kena kita meskipun sudah mandi tetap gak hilang,” kata Atim ketika ditemui di Kantor ASDP Jatiluhur, Ju’mat (22/10/2021).
Sementara itu Ia sendiri pernah mengalami gatal-gatal di kedua tangan hingga punggung atau badan bagian belakang, selain gatal di kulit bintik merah juga timbul di area yang gatal.
“Kalau di air itu ada eceng gondok bahkan kita rawan kena kutu air,”ujar dia.
Namun sejumlah masalah tersebut terjadi jika eceng gondok tumbuh berlebihan seperti yang sedang terjadi di Waduk Jatiluhur saat ini.
Hal itu, eceng gondok juga kerap kali dimanfaatkan jika tumbuhnya tidak berlebihan, seperti halnya untuk memperindah kolam atau hiasan lain.
Bahkan beberapa pengrajin tukar juga kerap mengolah eceng gondok sebagai bahan dasar anyaman.
Eceng gondok juga bisa dijadikan pakan ternak dengan cara dikeringkan, setelah hilang racun dalam getahnya, lalu dicacah dengan bentuk kecil supaya gampang dimakan oleh hewan ternak. (Rsd)

