Gerakan Pemuda Harus Naik Kelas, Menuju Karya Nyata

oleh -22 Dilihat

Garisjabar.com- Narasi besar mengenai peran strategis generasi muda kembali ditegaskan dengan pesan yang lebih tajam. Pemuda tidak lagi cukup hanya aktif berdiskusi, melainkan harus mampu melahirkan karya nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

​Pesan kuat ini mengemuka dalam forum diskusi kepemudaan bertajuk “Tunggu Aku Sukses Nanti: Energi Pemuda dalam Transformasi Kemajuan Daerah dan Negara” yang digelar di kawasan Bukit Kecil, Palembang, Minggu (12/04/2026).

​Firdaus Hasbullah, menegaskan bahwa pola lama berkumpul tanpa arah sudah tidak relevan di tengah disrupsi zaman. Ia mendorong agar setiap ruang diskusi pemuda bertransformasi menjadi “laboratorium gagasan” yang produktif dan aplikatif.

​“Organisasi itu bukan sekadar tempat berkumpul. Harus ada output yang jelas. Pemuda harus mulai menciptakan peluang usaha, menjadi entrepreneur, dan menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya,” kata Firdaus di hadapan audiens mahasiswa.

​Menurut Firdaus, kekuatan utama pemuda terletak pada adaptabilitas dan keberanian mengambil risiko.

Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa eksekusi, ide-ide besar hanya akan menjadi wacana yang usang.

​Kolaborasi lintas kampus dan peran akar rumput ​dalam forum yang dihadiri elemen mahasiswa dari berbagai kampus tersebut.

Firdaus juga menyoroti pentingnya sosok penggerak di tingkat akar rumput. Ia menilai figur seperti Yan Coga memiliki peran krusial dalam menjaga ekosistem gerakan tetap konsisten.

​“Perlu ada yang menjaga semangat kolektif ini tetap menyala. Pemuda harus saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Yan Coga menekankan bahwa tantangan terbesar pemuda saat ini adalah kemampuan menghadirkan solusi konkret di tengah masyarakat.

​“Sudah saatnya pemuda naik kelas. Tidak hanya kritis, tapi juga solutif. Kita ingin dari ruang-ruang seperti ini lahir gerakan nyata yang langsung menyentuh kebutuhan warga,” kata Yan Coga.

​Sinyal pergeseran gerakan
​sebagai langkah lanjut, Yan Coga memastikan komunitas yang dipimpinnya akan terus membuka ruang kolaborasi lintas kampus sebagai wadah penyatuan gagasan sekaligus aksi sosial yang terukur.

​Diskusi ini menjadi sinyal kuat bahwa arah gerakan kepemudaan di Sumatera Selatan mulai bergeser dari sekadar dialektika menuju eksekusi nyata.

Di tengah dinamika sosial-ekonomi yang kompleks, pemuda dituntut tidak hanya menjadi pengamat perubahan, melainkan motor utama yang mendorong kemajuan daerah dan negara. (Syaiful)