Para Perajin Tempe di Purwakarta Terbebani dengan Lonjakan Harga Bahan Baku dan Plastik

oleh -24 Dilihat

Garisjabar.com- Para perajin tempe di Kabupaten Purwakarta semakin terbebani dengan lonjakan harga bahan baku dan perlengkapan produksi.

Hal ini seperti yang disampaikan Sujoyo (55), perajin tempe di Jalan Kampung Lodaya, Kelurahan Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta, Kamis (19/4/2026).

Sujoyo mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan tanpa mengalami kerugian.

“Kendalanya banyak sekali. Harga plastik pembungkus naik drastis, dari kisaran Rp33 ribu sampai Rp34 ribu sekarang jadi Rp55 ribu,” ujar Sujoyo, saat di konfirmasi oleh awak media pada Jumat (10/4/2026).

Ia mengatakan, harga kedelai juga naik dari sekitar Rp9.000-an sekarang harganya nyaris Rp11.000 per kilogram

Namun, kondisi ini memaksa Sujoyo dan perajin lainnya mengambil langkah yang tak biasa. Alih-alih menaikkan harga jual, mereka memilih untuk mengurangi ukuran dan berat tempe.

“Kalau harga dinaikkan, warung dan masyarakat juga keberatan. Jadi kami siasati dengan mengurangi ukuran. Misalnya yang tadinya 4 ons, sekarang jadi 3,5 ons. Timbangan juga dikurangi sedikit supaya tidak rugi,” kata Sujoyo.

Ia terpaksa dilakukan agar usaha tetap berjalan, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membayar upah karyawan.

Dengan segala upaya dan siasatnya itu, Sujoyo mengaku bahwa pendapatannya tetap saja menurun.

“Keuntungan kami memang tidak besar, yang penting cukup untuk keluarga dan karyawan. Tapi tetap saja sekarang terasa berat,” kata dia.

Sujoyo mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga yang terjadi belakangan ini. Akan tetapi, ia berharap pemerintah lebih memperhatikan pelaku usaha kecil seperti perajin tempe dan tahu yang kini mulai “menjerit”.

“Jangan sampai masyarakat kecil ini terjepit. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama soal harga bahan baku,” ungkap Sujoyo.

Di lokasi produksi milik Sujoyo, aktivitas pembuatan tempe masih berjalan seperti biasa, meski dalam tekanan biaya.

Proses awal, tampak kedelai direndam dalam drum besar sebelum direbus menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Setelah itu, kedelai dikupas, dicuci, lalu difermentasi dengan ragi.

Selain itu, para pekerja terlihat telaten membungkus kedelai yang sudah diberi ragi menggunakan plastik, yang kini menjadi salah satu komponen biaya paling mahal.

Bungkus-bungkus tempe itu kemudian disusun rapi di rak kayu untuk proses fermentasi selama satu hingga dua hari. Jika diperhatikan lebih dekat, ukuran tempe yang dihasilkan memang sedikit lebih kecil dibanding sebelumnya.

“Karena gramnya dikurangi, jadi ukuran panjangnya ikut turun, yang biasanya dipotong 25 Cm, sekarang paling cuman 20 Cm, tapi harga tetap sama di Rp 4.000,” ucapnya. (Rsd)