Garisjabar.com- Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat K.H. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., menyampaikan bahwa perjalanan umat Islam tidak terlepas dari rangkaian bulan Rajab, Syaban, dan Ramadan.
“Di bulan Rajab, umat diingatkan pada peristiwa agung Isra Miraj yang menegaskan kemuliaan Rasulullah Saw. sekaligus kewajiban salat sebagai tiang agama,” ujar Kiai Marpu saat dimintai keterangan terkait persiapan Ramadan, Selasa (17/2/2026).
Memasuki Syaban, sambungnya, terdapat momentum Nisfu Syaban, Alquran ditranskip oleh malaikat, termasuk sejarah perpindahan kiblat ke Kakbah, sebagai simbol ketaatan total kepada perintah Allah.
“Syariat puasa di bulan Syaban dijalankan dengan penuh hikmah hingga sebagian sahabat mengira Syaban adalah Ramadan karena intensitas ibadah beliau,” katanya.
Rasulullah juga melarang berpuasa setelah pertengahan Syaban, sebagai bentuk kasih sayang agar umat tidak memasuki Ramadan dalam keadaan lelah dan terbebani.
“Syariat Rasulullah itu mewadahi umat. Memasuki Ramadan bukan dengan beban, tetapi dengan energi, semangat, dan kegembiraan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, keagungan syariat Allah selalu memberi ruang dan kemudahan bagi siapa pun.
“Ramadan pun menjadi puncak perjalanan ruhani, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang menghadirkan keberkahan lahir dan batin, dunia dan akhirat,” kata Kiai Marpu.
Ia pun mengutip hadis riwayat Imam Tirmidzi yang menyeru, “Wahai orang yang memiliki rencana kebaikan, kemarilah; dan wahai orang yang memiliki rencana keburukan, berhentilah”.
“Seruan ini menjadi panggilan agar setiap Muslim memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbanyak amal saleh dan menahan diri dari keburukan,” ujarnya.
Hal itu, secara khusus, Kiai Marpu mengajak masyarakat untuk memiliki rencana dan target yang jelas dalam mengisi Ramadan.
Dirinya mengatakan, Ramadan harus dihadapi dengan kesadaran dan perencanaan, misalnya dengan menargetkan diri untuk menjaga lisan, menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Diniatkan juga, kata dia, untuk mengkhatamkan Alquran, serta istiqamah melaksanakan Salat Tarawih hingga akhir Ramadan. Termasuk di dalamnya memperbanyak sedekah dan membantu sesama.
“Ramadan harus disiapkan sejak sekarang. Punya target. Punya rencana. Punya komitmen. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan atau ikut-ikutan suasana, melainkan momentum kesungguhan pribadi,” ucapnya. (Rsd)

