Garisjabar.com- Celengan sering kali dipandang sebelah mata. Sebatas piranti penyimpan uang. Celengan ayam jago masih menjadi ikon gerabah tradisional yang bertahan hingga kini.
Salah satu pengrajinnya Dadang (43), warga Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang menekuni usaha ini bersama sang istri Yanti (39) secara turun-temurun.
Dadang mengatakan, dirinya memilih fokus memproduksi celengan ayam jago karena permintaan pasar yang masih stabil hingga harganya pun terjangkau oleh semua kalangan.
“Kalau dibilang bagus, ya bagus penjualannya. Celengan ini bisa dibeli masyarakat kecil. Setiap hari selalu ada yang beli,” kata Dadang saat ditemui, Kamis (15/1/2025).
Ia menyampaikan, proses pembuatan celengan dimulai dari pengolahan tanah liat, pembuatan cetakan, pembentukan, hingga pembakaran.
Namun, seluruh tahapan memakan waktu sekitar 15 hari hingga siap dipasarkan. Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 50 buah, sementara pembakaran dilakukan seminggu sekali dengan kapasitas mencapai 300 celengan.
Untuk harga jualnya berkisar Rp 6.000 sampai Rp15.000 per buah, tergantung ukuran.
Menurut Dadang, celengan ayam jago merupakan warisan budaya masyarakat Anjun yang sudah ada sejak tahun 1904. Ia berharap pemerintah daerah terus mendukung pelestarian kerajinan tersebut.
Hingga kini, Dadang mengaku belum pernah menerima bantuan pemerintah dan menjalankan usahanya secara mandiri dengan modal pribadi.
Kepala UPTD Sentra Keramik Plered, Mumun Maemunah, menyebutkan bahwa keramik tradisional merupakan cikal bakal berkembangnya industri keramik di Plered dan masih memiliki potensi besar untuk menggerakkan UMKM lokal.
Ia berharap adanya dukungan kebijakan pemerintah, khususnya melalui program POE Ibu dan Gerakan Gemar Menabung bagi anak sekolah.
“Kami mengharapkan lembaga pemerintah maupun lembaga pendidikan dapat menghimbau anak-anak sekolah agar saat belajar menabung menggunakan barang-barang tradisional, salah satunya celengan Ayam Jago,” kata Mumun.
Menurutnya, celengan ayam jago memiliki nilai sejarah yang kuat. Pada masa lalu, saat belum ada lembaga perbankan, masyarakat Anjun menciptakan celengan sebagai sarana menyimpan hasil produksi dan menyisihkan penghasilan mereka.
Hingga kini, tradisi tersebut masih lestari dan pasarnya tetap kuat, terutama di pasar lokal dan tradisional.
“Alhamdulillah, para pelaku IKM gerabah tradisional sudah memiliki pasar masing-masing, sehingga mereka bisa fokus pada produksi. Meski kita bersaing dengan produk dari negara lain, untuk celengan dan keramik tradisional peminatnya masih banyak,” ungkapnya.
Selain celengan ayam jago, lanjut Mumun, pengrajin Plered juga memproduksi kendi dan pendil yang hingga kini masih dibutuhkan, termasuk oleh rumah sakit untuk keperluan persalinan.
Berdasarkan hasil survei lapangan, para pengrajin tradisional dinilai masih mampu bertahan dan bersaing, baik dari segi kualitas maupun pengembangan desain.
“Sebagai UPTD pengembangan sentra keramik, kami terus menghimbau pemerintah dan dinas terkait agar pemanfaatan celengan dalam program edukatif bisa diterapkan. Dengan begitu, anak-anak dapat belajar menyisihkan uang jajan sejak dini, sekaligus membantu mendongkrak dan memperkuat pasar UMKM gerabah tradisional Plered,” ucap Mumun. (Rsd)

