Bupati Bogor Mendapatkan Tanggapan Serius Ketua BEM

oleh -24 views


BOGOR-Garisjabar.com

Keberagaman yang dimiliki oleh bangsa indonesia merupakan anugrah yang patut di syukuri. Beragam budaya dan tradisi disetiap wilayah menjadi ciri tersendiri sebagai kearifan lokal yang patut dipelihara dan dilestarikan.

Kabupaten Bogor yang jargon Bumi Tegar Beriman, menjadi ciri tersendiri bagi daerah dan masyarakatnya yang santun, ramah, dan religius.

Hal tersebut,Bupati baru dengan visi misinya Pancakarsa yang di dalamnya terdapat Bogor yang berkeadaban menjadi pondasi yang kokoh, dalam mempertahankan identitas Kabupaten Bogor sebagai Kota Tegar Beriman.

Hal ini, mendapatkan tanggapan serius dari Ketua BEM Universitas Djuanda Bogor, Muhamad Arifin. Bahwa, program Nobat (Nongol Babat) merupakan program unggulan Bupati Bogor dalam upaya menertibkan tempat-tempat prostitusi yang ada di Kabupaten Bogor.

Hal ini merupakan salah satu upaya untuk membina umat agar terhindar dari penyakit sosial di masyarakat. Tentu hal ini perlu didukung oleh banyak kalangan, mengingat sudah maraknya prostitusi-prostitusi di 40 kecamatan di kabupaten Bogor, khususnya didaerah puncak Cisarua, dan Parung.

“Kami sangat mendukung program Bupati, Nongol Babat karena memang sudah saatnya pemda berani untuk menertibkan tempat-tempat prostitusi, tidak lagi tebang pilih apalagi melindunginya demi kepentingan tertentu oleh beberapa oknum,” kata dia.Selasa (13/8/2019).

Hal ini, dirinyapun mengapresiasi terhadap langkah seorang pemimpin. Tetapi, harus ada progres terkait dengan penertibannya. Karena begitu banyaknya tempat-tempat prostitusi baik yang sudah menjadi rahasia umum, maupun warung remang-remang yang hanya segelintir orang yang tau.

“Kami menantang bupati agar segera menertibkan tempat prostitusi didaerah Puncak Cisarua dan Parung yang kondisinya sudah begitu marak dan memprihatinkan. Jika hal ini dibiarkan maka akan berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Penyakit sosial serta penularan HIV/AIDS jika tidak segera di tanggapi secara serius,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Ketua BEM Polbangtan Bogor, Hermansyah, berdasarkan temuan yang dikaji oleh mahasiswa, maraknya prostitusi salah satunya karena himpitan ekonomi.

Kesulitan ekonomi yang menimpa seseorang terutama keluarga yang broken home, menjadi pemicu utama maraknya prostitusi disamping sulitnya mencari lapangan pekerjaan yang lama semakin lama menjadi fakta sosial di masyarakat yang keberadaannya dibenarkan.

“Karena soal prostitusi sudah berdampak sistemik, maka penanganannya pun harus hati-hati agar tidak ada pertentangan di masyarakatnya,” ucapnya. (Rht)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *